Tampilkan postingan dengan label PRAMUKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRAMUKA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

LAMBANG KWARTIR DAERAH

Ini adalah Logo kwartir daerah sekaligus merupakan badge dari Gerakan Pramuka di Propinsi. Badge daerah merupakan salah satu tanda pengenal dalam gerakan Pramuka yang ditetapkan dalam Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka no 055 tahun 1982 dan no 005 tahun 1989. Sesuai dengan peraturan tersebut bagde daerah berupa bentuk perisai dan bergambar ciri daerah tersebut. Nah, berikut ini adalah gambar logo kwartir daerah (badge daerah) yang berhasil penulis kumpulkan.

MORSE

Morse sebenarnya nama orang Amerika yang menemukan sebuah cara agar setiap manusia dapat saling berhubungan. Cara tersebut ditemukannya pada tahun 1837 tetapi baru dapat diterima untuk dipergunakan di seluruh dunia tahun 1851 dalam Konferensi Internasional.

MATERI PANDEGA

Raimuna
adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pandega dalam bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan oleh kwartir Gerakan Pramuka, seperti Raimuna Ranting, Raimuna Cabang, Raimuna Daerah, Raimuna Nasional.

Selasa, 09 Oktober 2012

LAMBANG PENDIDIKAN PRAMUKA

Image 
Pernahkah anda tahu bahwa lembaga pendidikan dan latihan Gerakan Pramuka ( Pusdiklat ) memiliki lambang tersendiri, seperti tampak pada gambar di atas. Terdiri dari bagian/ bentuk seperti mata rantai, Juluran lidah api, bintang, jantung yang berbentuk perisai dengan warna merah putih, garis tebal katulistiwa dan lain – lain yang masing masing memiliki arti/ makna. Lambang Pendidikan Gerakan Pramuka tercantum dalam Lampiran Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramukan nomor 073/KN/1977 tentang Lembaga Pendidikan orang  Dewasa dalam Gerakan Pramuka.

SANDI AMBALAN RACANA


Sandi Ambalan/ Racana


Pengertian.

Sandi Ambalan yaitu karangan atau ungkapan bebas berisi kode kehormatan dan gambaran pernyataan kata hati para pramuka penegak atau pandega di ambalan/ racana.

Cipta, rasa, karsa dan cita-cita terasa bermakna bagi para anggotanya, maka dengan adanya sandi ambalan/ racana dapat menunjukan sikap positif dan kreatif dalam kehidupan sehari – hari bagi ambalan/ racana tersebut.

AMBALAN PRAMUKA

Ketentuan umum

  • Ambalan terdiri dari paling banyak 40 orang Pramuka Penegak.
  • Ambalan Penegak putra terpisah dengan Ambalan Penegak putri.
  • Ambalan terdiri dari satuan-satuan kecil yang dinamakan “Sangga” yang masing-masing terdiri dari 5 sampai 10 orang Pramuka Penegak.
  • Pembentukan sangga dilakukan oleh Pramuka Penegak sendiri, dan bila diperlukan dapat dibantu oleh para Pembina dan Pembantu Pembina Pramuka Penegak.

SEKILAS TENTANG PRAMUKA

GERAKAN PRAMUKA INDONESIA (The Indonesia Scout Movement)

Sejarah Kepramukaan

Scouting yang di kenal di Indonesia dikenal dengan istilah Kepramukaan, dikembangkan oleh Lord Baden Powell sebagai cara membina kaum muda di Inggris yang terlibat dalam kekerasan dan tindak kejahatan, beliau menerapkan scouting secara intensif kepada 21 orang pemuda dengan berkemah di pulau Brownsea selama 8 hari pada tahun 1907. Pengalaman keberhasilan Baden Powell sebelum dan sesudah perkemahan di Brownsea ditulis dalam buku yang berjudul “Scouting for Boy”.

SEJARAH PRAMUKA INDONESIA



Pramuka Indonesia
Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.
Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu

KEMAH BHAKTI


Menggala
-
Bupati Tulang Bawang Dr. Hi. Abdurachman Sarbini kemarin membuka Kemah Bhakti
di stadion Tiuh Tohou, Menggala. Kemah yang diselenggarakan Dinas Pemuda dan
Olahraga bekerjasama dengan Pramuka Kwarcab Tulang Bawang itu sekaligus
menggelar outbond di kampung Tiuh Tohou, Kecamatan Menggala. Kepala Dinas
Pemuda dan Olahraga Dr. Hi. Akhmad Suharyo mengatakan, digelarnya Outbond
sebagai ajang pengembangan bakat serta melatih keterampilan dalam keberanian
pemuda yang mengikuti acara tersebut. â€Å“kegiatan outbond selain diikuti anggota
Kwarcab Pramuka Tulang Bawang, juga beberapa anggota PWI Tulang Bawang”
jelasnya.

APA??? PRAMUKA???

Kalau ditanya mengapa banyak anak tidak atau kurang suka lebih tepatnya dengan ekstrakulikuler Pramuka adalah pertanyaan retoris karena sesungguhnya Pramuka yang saya kenal selama ini adalah suatu program sekolah yang saya pikir sebagai ekstra yang terlalu dibesar-besarkan keberadaannya apa lagi ekstra ini juga diwajibkan namun atas dasar apa saya juga tidak begitu tahu mungkin sebagai formalitas atau untuk menggali dana untuk kas OSIS atau mungkin yang lain saya kurang begitu tahu.

Gerakan Pramuka Bangkit

Pengantar
Gerakan Kepanduan Praja Muda Karana (Gerakan Pramuka) adalah gerakan pendidikan non formal, bersifat sukarela, non politik, terbuka untuk semua, tanpa membedakan asal usul, ras, suku bangsa dan agama.  Keberadaan  Gerakan Pramuka dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden (KEPRES) no.238 tahun 1961 tanggal 20 mei 1961 dan diresmikan pada tanggal 14 agustus 1961. Ada 3 (tiga) diktum Penting yang tercantum dalam KEPRES ini yaitu,

Kepemimpinan Yang Baik Diawali Berpakain Pramuka Yang Baik

Seragam Pramuka adalah suatu kostum yang dipakai seseorang sehingga dapat memberikan kesan bahwa pemakainya adalah seorang anggota Pramuka. Dibagian lain seragam pramuka dilengkapi pula dengan atribut berupa tanda-tanda yang melekat pada pakaian seragam pramuka. Sesuai dengan sistem pendidikan yang dilakukan di dalam Gerakan Pramuka, maka pakaian seragam inipun merupakan alat pendidikan, yang diharapkan dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku Pramuka yang mengenakannya. Di Gerakan Pramuka telah diatur dengan Petunjuk Penyelengaraan tentang Seragam Pramuka. Seragam Pramuka memiliki nilai histories, dimana penggunaan warna coklat muda dan coklat tua mengingatkan para pramuka akan pakaian yang digunakan oleh pejuang-pejuang kita di masa revolusi yang lalu, dan para prajurit yang berada di garis pertempuran. Oleh karena itu penggunaan pakaian seragam ini dipakai untuk menanamkan jiwa patriotisme yang besar dikalangan Pramuka. Di samping itu pakaian seragam ini harus praktis, menarik, menyenangkan dan membanggakan bagi pemakainya.

GERAKAN PRAMUKA MEMPERSIAPKAN KADER BANGSA

Peringatan Hari Jadi Gerakan Pramuka Tahun 2012
Gerakan Pramuka
Mempersiapkan Kader Pemimpin Bangsa
Pengantar 
Tulisan ini dipersembahkan dalam rangka peringatan Hari Jadi Gerakan Pramuka tahun 2012 .Sekarang usia Gerakan Pramuka sudah mencapai 51 tahun, yaitu dihitung dari tahun 1961 sampai dengan tahun 2012, ditandai dengan lahirnya keputusan presiden RI Nomor 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka. Telah dapat menyatukan berbagai kepanduan yang pernah ada di Republik Indonesia, melebur menjadi satu wadah yaitu Gerakan Pramuka. Presiden RI menandatangani Kepres tersebut pada tanggal 20 Mei 1961, tetapi Gerakan Pramuka diresmikan pada tanggal 14 Agustus 1961, ditandai dengan penyerahan panji Gerakan Pramuka dari Presiden RI Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku kakwarnas Gerakan Pramuka.Oleh sebab itu tanggal 14 Agustus ditetapka sebagai hari jadi Pramuka.

GERAKAN PRAMUKA RAWAN DEGRADASI

Pada peringatan hari Pramuka ke 50 yang lalu , Gerakan Pramuka telah menyelenggarakan Pengibaran bendera Merah putih terbesar dengan moment Dive Pramuka Emas di pantai Pasir Putih Situbondo, demikian pula dilaksanakan kegiatan estafet tunas kelapa dari penjuru tanah air, yang terakhir pengibaran bendera Merah Putih di pulau sebatik yang dilakukan Pramuka Saka Bahari. Masih banyak event lainnya yang pokok utamanya adalah menanamkan kesadaran berbangsa, belanegara dan kecintaan pada tanah air di negara ini Kegiatan besar semacam itu bukan sekedar simbol, namun memiliki arti besar bagi gerakan pramuka dalam upaya membangun karakter bangsa ini melalui generasi muda yang tergabung dalam Gerakan Pramuka.

PRAMUKA DI KAMPUS? : MASIH EKSISKAH?

Pramuka di kampus? Praja Muda Karana itu memangnya masih ada? Begitu tanggapan sebagian dari kita jika bicara tentang Pramuka di kampus. Tak heran banyak yang bertanya-tanya, karena memang banyak kampus di Indonesia tak ada aktivitas Pramuka.
Mengapa tak banyak kampus memiliki aktivitas Pramuka? Alasannya bisa beragam. Peminatnya kurang, ada anggapan Pramuka itu kuno, ketinggalan zaman alias zadul juga berkembang. Bahkan, mereka yang menjadi anggota Pramuka Pandega di kampus pun tak sedikit menerima ”ledekan” semacam itu.
Kenyataan seperti ini tentunya memprihatinkan, apalagi mahasiswa adalah cikal bakal pemimpin bangsa, tapi tak tahu benar apa sisi positif dari kegiatan gerakan Pramuka. Mereka menjauhi, tak memilihnya sebagai pilihan kegiatan di kampus, maka di banyak kampus Pramuka pun tak eksis.
Namun, dari sekian banyak kampus yang tak memiliki Gerakan Pramuka, masih ada kampus-kampus yang terus menjalankan aktivitas Pramuka. Memang tak banyak mahasiswa di kampus tersebut menjadi anggota Pramuka, tapi dari yang sedikit bergabung menjadi anggota itulah diharapkan gerakan Pramuka terus bergulir.
Membanggakan
Labibul, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) angkatan 2006, sudah bergabung menjadi anggota Pramuka sejak masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setara SD). Kegiatan Pramuka berlanjut hingga ia masuk SMP di Bumi Ayu Brebes, Jawa Tengah, dan STM Widya Karya Purwokerto, Jawa Tengah.
”Saat saya masuk UNJ, otomatis saya melanjutkan kegiatan Pramuka ini. Bisa dibayangkan waktu saya pertama kali masuk kampus dengan memakai seragam Pramuka, sementara teman-teman saya di Fakultas Teknik kebanyakan lulusan STM, waaah, habis saya diledekin. Dibilang: zadul, kuno,” tutur Labibul.
Namun, ledekan-ledekan yang mengepung Labibul tak dihiraukannya. Dia tetap fokus dengan aktivitas Pramuka yang sudah dicintainya sejak masih kanak-kanak.
”Ada banyak keterampilan yang saya kuasai karena keikutsertaan saya di Pramuka. Kalau saya belajar keterampilan itu di luar Pramuka, wah saya pasti harus mengeluarkan dana besar. Jadi saya melihat keuntungan ikut Pramuka karena diri saya berkembang di dalam Pramuka,” kata Labibul.
Hal yang sama pun dialami Arif Fahrurozi yang kini menjadi anggota Dewan Kerja Daerah (DKD) Pramuka Penegak Pandega Kwartir Daerah Jambi. Fahrurozi yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi ini juga sempat diledek teman-teman kampusnya ketika bergabung dengan Gerakan Pramuka di Universitas Jambi.
”Saat awal saya pakai seragam Pramuka, teman-teman yang ikut unit kegiatan lain di kampus meledek habis saya. Tapi tak saya pedulikan. Sekarang setelah saya menjadi anggota DKD, mereka baru sadar bahwa Pramuka itu enggak cuma tepuk-tepuk tangan saja,” kata Fahrurozi bangga.
Anggota Pramuka dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Nuramelia, lebih beruntung. Mahasiswi Jurusan Pendidikan Biologi angkatan 2009 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kejuruan ini tak pernah merasakan ledekan teman-teman kampusnya.
”Teman-teman di UIN sangat menghargai pilihan kegiatan teman-teman lain,” kata Amel, panggilan Nuramelia.
Membuktikan diri
Meskipun diledek teman, mereka tetap jalan terus dan terpacu untuk membuktikan kepada teman-teman di kampus bahwa melalui Pramuka mereka bisa mengembangkan diri.
Aktivitas Racana (Pramuka setingkat Perguruan Tinggi) UNJ digelar tiap hari Sabtu sore. Ada baris berbaris, ada pula pemberian berbagai macam materi. Materi yang diberikan kepada anggota Pramuka setiap minggu berbeda. Ada fotografi, panjat tebing, hasta karya , keterampilan bahan daur ulang, belajar teknologi dengan membongkar pasang komputer atau televisi, dan belajar multimedia dengan membuat website.
”Saya mendapatkan banyak hal positif bergabung dengan Pramuka. Saya menjadi lebih percaya diri dan mendapat keterampilan. Contohnya saya bisa mendapatkan training gratis 4 bulan di Cibubur Aeromodeling Club. Kalau saya harus bayar sendiri, wah berapa itu?” kata Labibul.
Labibul pun berulang kali menjadi panitia di berbagai acara Pramuka. Seperti menjadi panitia Pertemuan Pramuka Luar Biasa tingkat Nasional dan panitia Jambore Asean 2008 di Cibubur, Jakarta Timur. Semua pengalaman tersebut semakin memperkaya dirinya.
Arif Fahrurozi membuktikan sebaliknya bahwa Gerakan Pramuka itu bukan gerakan zadul atau ketinggalan zaman. Justru Gerakan Pramuka yang ia ikuti terus membawanya maju mengembangkan diri.
”Anggota Pramuka di Universitas Jambi ini memang ada ratusan orang, tapi yang aktif hanya 40 orang. Ya barangkali karena kesibukan teman-teman. Kalau kegiatan rutin kami ya hari Sabtu saja,” kata Fahrurozi.
Yang membanggakan Fahrurozi, dengan bergabung menjadi anggota Pramuka, ia sering mengikuti event di tingkat nasional. ”Setiap tahun selalu ada event nasional, kalau unit kegiatan lain belum tentu ada acara tingkat nasional setiap tahun. Ketua DKD Pramuka Kwartir Daerah Jambi bahkan dikirim ke Amerika Serikat selama dua bulan untuk melatih Pramuka di sana,” kata Fahrurozi.
Selain menjadi lebih percaya diri, Pramuka membuat Fahrurozi menjadi mandiri, bisa menghadapi/melihat masalah tidak hanya dari satu sisi.
Hal yang sama juga dirasakan Amel. Ia pun bangga menjadi anggota Pramuka. Racana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta aktif mengikuti Pendidikan Latihan Dasar di Semarang, Perkemahan Wira Karya Nasional di Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, juga latihan berkomunikasi dengan Pramuka dari negara lain melalui radio amatir/internet adalah hal lain yang membuat Amel merasa bangga.
Artinya, kegiatan Pramuka terus berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Seragam Pramuka memang tak berubah, tapi isi kepala anggota Pramuka ternyata tak sezadul yang dikira. Jadi, tak ada salahnya menghidupkan aktivitas Pramuka di kampus kita.
Kompas. Selasa, 4 Januari 2011

MENGAPRESIASI PRAMUKA

Sebagian besar dari kita pernah merasakan manfaat dari kegiatan praja muda karana (pramuka) tetapi hanya sebagian kecil yang tahu persis potensi dan manfaatnya. Faktor penyebabnya beragam, mulai faktor eksternal persepsi publik tentang gerakan pramuka yang (hanya) sekadar tepuk-tepuk tangan hingga faktor internal seperti minimnya publikasi kegiatan pramuka di media massa.
Bahkan sedikit orang yang tahu bahwa pada usianya yang ke-50 pada tahun ini, Gerakan Pramuka Indonesia (Indonesia Scout Movement-http://www.pramuka.or. id/) merupakan satu-satunya gerakan kepanduan di Indonesia seperti diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.
Dengan potensi SDM yang lebih beragam, publik boleh berharap ke depan kita akan melihat wajah anggota pramuka yang lebih baik. Sebagai lembaga pembentuk karakter, pramuka mempunyai beberapa potensi yang tidak banyak diketahui oleh publik secara luas. Salah satunya adalah pramuka luar biasa (PLB).
Pramuka luar biasa adalah sebutan bagi anggota pramuka yang berkebutuhan khusus, berbeda dari pramuka ’’biasa’’. Penyelenggaraan kegiatan PLB bernaung di bawah gugus depan luar biasa. Baik yang melingkupi semua jenis ketunaan, atau hanya satu jenis ketunaan tergantung spesifikasi masing-masing sekolah luar biasa (SLB). Pembina dan pedoman pembinaannya disesuaikan dengan masing-masing ketunaan. Bahkan syarat kecakapan khusus (SKU) pramuka luar biasa, disesuaikan dengan ketunaan masing-masing (PP Nomor 272 Tahun 1993).
Namun, jika ketunaan yang dimiliki tidak berat, kegiatan PLB dapat dilakukan dalam gudep terpadu dan inklusif, gudep biasa yang sebagian anggotanya pramuka berkebutuhan khusus atau mempunyai gangguan fisik, emosi, perilaku, dan sosial. Melalui gudep ini, pramuka luar biasa dididik secara sama bersama-sama anggota pramuka yang lain.
Di Jawa Tengah, sinergi semacam ini pernah dilakukan dalam Raimuna Daerah di Cilacap tahun 2009, karena perkemahannya juga melibatkan anggota pramuka luar biasa. Adanya gugus depan luar biasa membuktikan bahwa pramuka luar biasa juga mempunyai hak, kewajiban, peran, dan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Minat atas Gerakan Pramuka memang selayaknya tidak dibatasi oleh keterbatasan yang dimiliki manusia, baik keterbatasan yang bersifat fisik, emosi, perilaku, maupun sosial. Selama seorang anak masih terhimpun dalam usia siaga, penggalang, penegak, pandega, statusnya tetap menjadi peserta didik pramuka.
Menyikapi Peluang
Salah satu SLB yang berhasil mengembangkan pramuka luar biasa sebagai pilihan kegiatan ekstrakurikuler adalah SLB Negeri Semarang. Sebagai lembaga pendidikan formal yang khusus mendidik anak-anak yang mempunyai kelainan, sekolah ini berhasil membuktikan bahwa di tengah keterbatasan itu tersimpan potensi luar biasa yang dapat digali oleh setiap orang.
Berbicara tentang pramuka luar biasa, kita mengenal beberapa kategori anak berkebutuhan khusus berdasar ketunaannya, antara lain tunanetra, tuna ungu-wicara, tunagrahita, tunadaksa, dan tunalaras. Dalam pramuka luar biasa pun, kategorinya dibedakan antara lain menjadi kelompok A (tunanetra), B (tunarungu), C (tunagrahita), D (tunadaksa), dan E (tunalaras). Pembedaan ini memengaruhi pola penyampaian materi kepramukaan.
Bagi anggota pramuka biasa, sandi hanya dimaknai sebagai media pembelajaran yang dapat melatih ketelitian, daya ingat, kecerdasan, dan konsentrasi. Sementara bagi pramuka luar biasa, sandi merupakan alat komunikasi yang nyata, bukan hanya sekadar simulasi. Bagi tunanetra misalnya, media yang paling efektif sebagai sarana pengirim pesan adalah suara. Maka proses transformasi materi dapat dilakukan dengan sandi morse melalui media peluit.
Berbeda halnya bagi anggota pramuka tunarungu dan wicara, yang menggunakan cahaya atau bahasa isyarat sebagai media komunikasi. Bagi kategori ini, materi kepramukaan seperti semafor mempunyai nilai tambah yang tidak dirasakan oleh pramuka biasa. Kesadaran akan potensi Gerakan Pramuka ini seharusnya terus diapresiasikan agar anggota pramuka lebih peka menyikapi peluang. (Sumber: Suara Merdeka, 4 Juni 2011).

GLADIAN PIMPINAN SATUAN

QQQ
Gladian Pimpinan Satuan, adalah kegiatan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega bagi Pemimpin Sangga Utama, Pemimpin Sangga, dan Wakil Pemimpin Sangga, yang bertujuan memberikan pengetahuan di bidang manajerial dan kepemimpinan. Dianpinsat diselenggarakan oleh gugusdepan, kwartir ranting atau kwartir cabang. Kwartir daerah dan Kwartir Nasional dapat menyelenggarakan Dianpinsat bila dipandang perlu.